Tampilkan postingan dengan label Cerpen Beel {}. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen Beel {}. Tampilkan semua postingan

Jumat, 30 Maret 2018

SUAMI UNTUK ISTRI YANG TIDAK SEMPURNA



"Ibuuuu.....!!!" seorang anak kecil berlari menuju ibunya yang berada disudut taman sekolah sambil menangis tersedu-sedu.


"Icha.. kenapa sayang? Ada apa? Mengapa menangis seperti itu?" dengan wajah yang sedih pula wanita berusia 27 tahun itu mendekati dan merangkul anaknya.


"icha..ichaa .. diledekin temen icha bu.. katanya.. katanya.. icha seperti alien bu.. icha nggak punya telinga 2 bu.. te..terus tangan Icha nggak normal karena icha punya 6 jari bu. huaaa " tangis anaknya semakin kencang hingga mata sang ibupun mulai berkaca-kaca.


"icha sayang.. semua manusia itu lahir dengan kekurangan dan kelebihannya masing-masing sayang, Allah sudah mentakdirkan itu semua.. Icha harus bersyukur walau diberi satu telinga, yang penting masih bisa mendengar ibu, kan?"


Anak kecil itupun mengganguk sambil menggosok kedua matanya.


"tapi..tapi icha gak kuat! Icha diledek setiap hari bu.." tangisnya pun kembali memecah suasana taman sekolah.


"Bagaimana kalau besok Icha pergi ke sekolah pakai jilbab? Seperti ibu ini"


"emm.. Iya bu Icha mau biar nggak diledekin lagi kan bu?"


"iya sayang, ya sudah kita pulang ya"





15 Tahun Kemudian





Danisha Putri atau sering dipanggil Icha kini sudah tumbuh menjadi gadis dewasa yang sangat cantik. Jilbab lebar yang menutupi dadanya membuat ia  terlihat semakin cantik. Banyak lelaki yang ingin meminangnya  dan sudah melamarnya yang namun banyak pula tolakan halus yang ia lontarkan. Lantaran ia lebih memilih kuliahnya demi meraih cita-citanya menjadi seorang pegawai kantoran.


"Icha, lamaran anaknya Bapak Rusli mengapa kamu tolak juga? Menurut ibu, ia pantas menjadi suamimu" ujar sang ibu dengan rasa kecewa.


"Anaknya juga baik, penuh kasih sayang. Ibu yakin kamu dia bisa membaahagiakanmu"


"Tapi bu, Icha ingin mencari suami seperti almarhum ayah bu. Ayah begitu tegas dan penuh kasih sayang dalam mendidik Icha. Ayah juga lembut sikapnya terhadap ibu. Icha belum pernah melihat ayah dan ibu bertengkar juga. Tidak seperti teman Icha yang dikampus bu. Suaminya memang baik hati, penuh kasih sayang, romantis pula. Tapi, beberapa bulan kemudian suaminya menjadi berperangai kasar. Icha hanya takut itu terjadi bu. Apalagi fisik Icha yang.."


"Su..sudahlah anakku. Itu murni pemberian Allah. Bersyukur saja nak. Ibu yakin jauh disana akan ada jodohmu yang akan menerimamu apa adanya." Ibunya mulai menenangkan sang anak. Memang, anaknya ini memiliki rasa minder yang cukup tinggi dan membuat sang ibu harus selalu memotivasi dirinya.


"Kelak akan ada sang pangeran yang akan membawamu ke syurga-Nya. Ibu yakin itu sayang." Sang ibu memeluk erat sambil mengelus jilbab ungu kesukaan anaknya itu dan tak terasa air matanya mulai berjatuhan . Ibu Icha jauh lebih rapuh daripada Icha yang masih bisa mem-masa bodoh-kan gunjingan teman-temannya, tapi sang ibu sangat terpukul bila anaknya yang tidak sempurna ini menjadi bahan tertawaan orang lain. Karena pada dasarnya, orang tua mana yang rela anaknya digunjing karena tidak sempurna?


-----


Matahari pagi sudah menampakkan diri. Ayam berkokok tanda subuh telah datang membuat wanita cantik itu bangun dan bergegas menuju kampusnya. Tak lupa qiyamul lail dan membersihkan rumah ia jadikan rutinitas sehari-hari.


"Icha sarapan sudah siap nak"


"Iya bu, iya cuci tangan dulu"


"Ohiya ca, hari ini ibu mau bertemu teman lama ibu. Beliau teman ibu saat SMA. Oh iya, boleh ibu minta tolong?"


"Minta tolong apa bu?"


"Antarkan ibu ke Masjid Ar-Raudhah, ibu akan bertemu Ibu Susi disana. Lagipula karena ada acara pengajian juga"


"Oh.. boleh saja bu, lagian hari ini Icha hanya satu mata kuliah"


"Ya sudah nanti sore ibu antarkan ya nak. Tapi motormu si putih tidak ngambek lagi kan?"


"Sudah tidak dong bu he..he.. Kemarin Icha servis jadi ya .. sudah bisa diajak kompromi deh.. Eh bu, Icha berangkat dulu ya bu, nanti takut terlambat. Assalamualaikum.". Icha berpamitan pada sang ibu seraya mengecup keningnya.


"Waalaikumsalam. Hati-hati ya sayang"


Jam kini sudah menunjukkan pukul 15.00 WIB, artinya Icha harus bergegas mengantarkan ibunya ke Majelis Ta'lim Ar-Raudhah. Setelah menemui ibunya, Icha langsung berangkat dengan motor kesayangannya itu.


Dan sesampainya di Masjid Ar-Raudhah..


"Assalamualaikum Bu Anis.."


"Eh.. Waalaikumsalam Bu Susi. Aduh, bagaimana kabarnya? Sudah lama sekali tidak berjumpa dengan sobat SMA"


"Saya baik bu, oh iya ibu sendiri bagaimana?"


"Saya juga baik, oh iya bu kenalkan anak saya ini namanya Icha"


"Saya Icha bu" seraya mengulurkan tangannya untuk salaman.


"Wah, cantik sekali ya anaknya.. Eh saya juga mau kenalkan ibu sama anak saya. Zidni sayang, kemari nak." panggil Bu Susi dengan lembut.


"Iya ada apa bu?" suara khas yang lembut terdengar dari belakang mobil dan membuat Icha bertanya-tanya akan rupa lelaki itu.


"Suaranya lembut, pasti orangnya baik hati. Duh, penasaran deh sama orangnya" gumam Icha.


Akhirnya sosok yang ia tunggu-tunggu kini sudah dihadapannya. Betapa tampan dan gagahnya anak Bu Susi itu. Sudah tampan, bersuara lembut, berperawakan tinggi, kulitnya putih dan berkaca mata.


"Masya Allah tampannya anak Bu Susi itu. Eh, astaghfirullah tetap jaga pandangan Cha!" gumam Icha lagi dan ia hanya bisa menundukkan kepalanya.


"Zidni, kenalkan ini teman lama ibu loh.. Namanya Ibu Anis, oh iya dan ini anaknya namanya Icha".


"Saya Zidni bu" ucap Zidni dengan lembut sambil mencium punggung tangan Bu Anis. Tak lupa juga ia menyunggingkan senyuman kepada Icha yang membuatnya semakin tersipu malu.


"Ya sudah Icha, kamu boleh pulang sekarang. Jangan lupa jaga rumah yaa.."


"Baik bu. Icha pamit pulang bu, Tante Susi sama Kak Zidni. Assalamualaikum" ucap Icha yang meninggalkan mereka bertiga.


"Waalaikumsalam"


"Ohiya Zidni, katanya kamu juga ada urusan kantor kan? Ya sudah kamu selesaikan saja. Biar ibu dan Bu Anis saja. Lagipula pengajiannya akan dimulai beberapa menit lagi".


"iya bu, Zidni pamit pulang juga ya bu, Tante Anis. Assalamualaikum" ucap Zidni dan melangkahkan kakinya ke mobil.


"Waalaikumsalam"


"Oh iya bu mari kita ke dalam, acaranya sudah dimulai"


Satu setengah jam pun sudah berlalu dan acara pengajian berjalan dengan lancar tanpa hambatan. Kini kedua sobat lama itu segera meninggalkan masjid.


"Wah Bu Susi, saya tidak nyangka anak ibu setampan itu. he.he." puji Bu Anis.


"Ah, biasa saja bu. Lagipula tampannya itu menurun dari suami saya, anak ibu juga tak kalah cantik toh bu"


Bu Anis hanya tersenyum.


"Anak ibu usia berapa?"


"Alhamdulillah baru 21 tahun, dia sedang kuliah manajemen bu. Kalau anak ibu?"


"Masih muda bu, anak saya sudah 28 tahun. Tapi, belum juga menikah. Hh, padahal saya sudah ingin menimang cucu. Jadi ya, ayahnya paksakan menikah dengan anak teman kerjanya. Mudah-mudahan jodohnya ya bu, bulan depan akan melangsungkan akad."


"Subhanallah, semoga lancar ya bu.."


***


"Icha, kenapa belum tidur? Ada yang sedang dipikirkan?" tanya sang ibu kepada Icha yang sedari tadi hanya melamun sambil tersenyum-senyum.


"Kenapa ya bu, Icha terus memikirkan Kak Zidni? Wajahnya, senyumnya, tutur katanya terus terngiang dipikiran Icha. Mmm, apa jangan-jangan Icha suka sama Kak Zidni? Duh.he.he.he"


"Hush jangan begitu , nak. Zidni anaknya Bu Susi itu akan menikah bulan depan! Jangan sampai kamu memikirkan hal yang disukai syaiton, nak"


"Apa bu? Ibu tau darimana kalau Kak Zidni akan menikah?"


"Tadi saat pengajian ibunya yang bercerita kepada ibu"


"Yah.. Kenapa sih bu?Icha ingin punya suami seperti Kak Zidni bu. Itu suami yang Icha harapkan bu. Apa Icha tidak pantas dengan Kak Zidni?"


"Icha sayang, bukan tidak pantas. Ingatlah bahwa sesuatu yang sudah ditakdirkan milik kita, maka akan menjadi milik kita"


"icha ingin jodoh seperti Kak Zidni bu. Tapi apa orang cacat seperti Icha layak mendapatkan suami seperti Kak Zidni?". Wajah cantik Icha sudah mulai meneteskan air mata pesimis.


"Berdoalah kepada Allah nak. Karena hanya doa yang bisa merubah semuanya."


Ibunya sangat paham sekali apa yang anaknya rasakan. Beliau sangat takut apabila suami Icha kelak tidak menerimakan dirinya. Ia juga takut apabila dengan fisik Icha maka sang suami akan meninggalkan Icha dan mencari wanita yang menurutnya sempurna. Apalagi kini Icha sering sakit-sakitan dan kehilangan setengah fungsi pendengarannya.


***


"Icha .. Icha" panggil seorang wanita muda yang usianya tidak jauh beda dengannya.


"Carla, ada apa?"


"Hari ini, asisten dosen kita digantikan sementara loh"


"Lalu? Ada yang berubah?"


"Tidak sih, tapi setidaknya ini trending topic di kelas!"


"Oh.."


"Mengapa hanya oh saja Icha.. Jika kamu tahu siapa dia kamu pasti tercengang!"


"Apa istimewanya dia?"


"Icha! Dia! Dia tampan sekali! Aku yakin dia sholeh! Hh, calon imam yang baik"


"aamiin"


"Pokonya kamu harus liat deh!"


"Duhhh Maya, nanti aja lah.. kan nanti kita juga ada pengumpulan jurnal dan makalah. Ya aku jadi males nih ketemu sama asisten dosen"


"Loh kenapa? kamu yakin gak nyesel cha?"


"Ya enggaklah! kalau ketemu asisten dosen artinya ada revisi."


"Bener juga cha.. Tapi kalau asistennya seperti dia aku mau deh direvisi terus!"


"Hush! kamu ini ada-ada aja deh, kalau revisi terus kapan kita melangkah ke tugas akhir?"


"Ha.. Ha.. Ha.. iya cha semoga saja bisa bertemu asisten di luar jam revisi"


"Ya aamiin itu doamu kan may, aku mau print  jurnal dulu ya! Sampai ketemu jam 3"


"Oke, dadah Icha"


---


"Apa yang membuat mahasiswi manajemen ini heboh? Sedari tadi ku lihat banyak yang berbisik-bisik dan tersenyum setelah keluar ruangan asisten" gumam Icha didalam hati.


"Icha!"


"Maya? Kamu belum asistensi juga?"


"Belum nih, harus antri"


"Astaghfirullah kok antri?"


"Iya soalnya banyak banget cha dan revisinya nggak kelar-kelar. Oh iya kamu dapat antrian nomor 46 soalnya dilihat dari nomor mahasiswa cha"


"Sekarang giliran nomor berapa?"


"38"


Ada 8 orang lagi yang harus Icha tunggu. Sedikit hal yang membuat Icha bertanya-tanya "Mengapa asistensi mata kuliah ini harus dengan nomor antrian? Biasanya kosong karena asisten dulu sangat perfeksionis dan membuat mahasiswa takut" Sembari menunggu, Icha membaca Al-Qur'an di handphone-nya. Satu surah telah dibaca dan kini giliran Icha menghadap asisten dosen.


"46!"


"Icha! Namamu! Semangat cha!" ujar Maya


Icha melangkahkan kaki menuju ruangan tersebut dan....


"Subhanallah! Kak Zidni! Jadi beliau ini yang menggantikan Bu Annekeu dan menjadi topik pembicaraan tadi pagi!"


"Ya silahkan"


"Ini pak jurnal dan makalahnya"


Jantung Icha berdenyut tak karuan karena melihat orang yang ia sukai ada dihadapannya.


"Ya Allah tolong jaga hati dan pikiran hamba...."


"Jurnalnya sudah baik, dan .. sepertinya tidak ada revisi lagi. Jadi saya acc saja ya."


"Emm ya terima kasih pak"


"Tapi tunggu, apa ini tidak salah metode untuk menentukan nilai perusahaan?"


"Tidak pak saya merasa sudah benar, dan sebelumnya asistensi dengan Bu Annekeu tidak ada yang salah, yang salah hanya perhitungannya saja"


"Hmm... saya rasa ini salah. Memang metode apa yang digunakan untuk menentukan nilai perusahaannya?"


"Saya menggunakan metode pendekatan pasar"


"Kenapa begitu? Saya lebih suka dengan metode pendekatan laba"


"Tapi saya rasa pendekatan pasar lebih efektif, karena perusahaan sejenis yang digunakan untuk menentukan nilainya. Memang perkiraan laba kurang mewakili pada metode ini dan harus menggunakan perusahaan yang sejenis sebagai pembandingnya. Tapi bukannya metode ini lebih sederhana? Dan keunggulan dari metode ini kan kesederhanaanya? dan dengan Bu Annekeu juga .. beliau mengatakan bahwa metode ini sangat bagus jika diterapkan pada penentuan nilai perusahaan saya, kenapa bapak bilang ini salah?"


Icha yang memang berpendirian teguh dan selalu merasa benar mulai menjelaskan argumennya hingga membuat Icha sedikit kesal karena ada yang mengatakan laporannya salah.


"Ya.. ya .. ya saya mengalah, saya salah he.. he.."


"Apa yang dipikirkan Kak ZIdni tiba-tiba mengatakan laporanku salah? Hmmm aku sangat kesal dan hampir saja aku berteriak karena aku harus mengulangnya dari awal"


"ya sudah saya tanda tangani jurnal dan makalahmu ya karena sudah tepat dan benar jadi tidak usah ada revisi lagi"


"Ya terima kasih"


Akhirnya Kak Zidni menandatangani laporannya dengan wajah polosnya seakan tak tahu betapa kesalnya Icha saat itu. Setelah selesai, Icha akhirnya keluar ruangan dengan hati yang sedikit kesal tetapi Icha juga bahagia karena bisa bertemu orang yang ia sukai.


"Ternyata anak itu sangat kuat berargumen dan teguh pendiriannya.. Hhh" ujar Zidni dalam hati dengan raut wajah terkagum-kagum.


----


Lama tak terdengar kabar karena Kak Zidni sudah digantikan kembali oleh Bu Annekeu membuat mahasiswa tidak antusias seperti dahulu, Icha pun tidak tahu bagaimana kabar Kak Zidni sekarang. Tak tahu apakah ia sudah menikah atau belum. Karena hampir 1 semester tak terdengar kabarnya. Yang jelas minggu kemarin adalah minggu terindah bagi Icha. Bagaimana tidak, karena pada saat itu Icha dinyatakan lulus sebagai sarjana manajemen dan membuat ibunya bangga. Kini tinggal 2 minggu lagi Icha akan menghadiri acara wisudanya.


Seperti biasa, Ibunda Icha menghadiri acara ta'lim gabungan dengan ibu-ibu di masjid yang lain. Tapi sudah hampir 5 bulan tak terdengar kabar tentang sobat lamanya, yaitu Ibunda Zidni.





"Bu Susi!"


"Anis! Sudah lama yah tidak bertemu" sembari ber-cipika cipiki


"Iya bu, oh iya memang ibu kemana saja tidak ikut ta'lim gabungan?"


"Emm.. Hhhhh .. saya .. saya sangat terpukul bu"


"Astaghfirullah, ada apa Bu Susi? Apa ada masalah yang menerpa ibu? Apa saya bisa bantu?"


"Begini nis, Zidni tidak jadi menikah. Calon istrinya kabur membawa mobil Zidni dan juga membawa cek senilai 500 juta rupiah. Zidni merasa terpukul karena itu uang hasil jerih payahnya menabung untuk keperluan pernikahannya"


"Astaghfirullahal adzim, apa ibu sudah lapor polisi?"


"Sudah dan saya membantu Zidni mencari calon istrinya itu, juga menenangkan Zidni karena semua harta Zidni hilang dan bagaimana tidak kecewa, calon istrinya sudah menipu dan ternyata sudah memiliki anak. Apa ibu Anis mau membantu saya dan ZIdni"


"hhh... mungkin ini memang jalan yang terbaik buat Zidni, semoga Allah mengikhlaskan hatinya dan mengganti dengan yang lebih baik ya bu. Pasti bu, saya akan membantu ibu lagipula kita sesama muslim harus saling membantu"


"Aamiin bu.. saya sangat beterima kasih memiliki sobat yang bisa mendukung"


"Alhamdulillah, ya sudah ayo bu kita masuk saja"


----


Sepulang dari ta'lim Ibu Anis melihat putri kecilnya itu tampak kebingungan dan membolak-balik sebuah kertas.


"Ananda.. apa yang membuat ananda bingung?"


"Ibu, apa Icha harus datang untuk interview di kantor ini?"


"Icha sudah diterima?"


"Iya bu, tapi ... tapi Icha bingung! Apa Icha harus datang atau tidak. Icha merasa kalau Icha tidak pantas, bekerja di kantoran, memakai jas dan sepatu hak tinggi, juga berdandan ke kantor"


"Icha, kenapa harus seperti itu? Jadilah sederhana dan tunjukkan kualitas diri, tidak usah berdandan tebal atau memakai sepatu dengan hak tinggi"


"Jadi, menurut ibu Icha datang saja?"


"Iya Icha. Semoga saja rezeki dan jodoh Icha ada disana"


"Aduhh ibuuuu....."


"Ha..Ha..Ha.."





Keesokkan harinya, Icha tampil sangat sederhana. Dengan celana panjang berwarna mocha dan baju kemeja putih tak lupa jilbab rawisnya yang menutupi mahkotanya. Icha berjalan menuju ruangan interview dan mulai dites dengan beberapa pertanyaan. Alhamdulillah, berkat doa ibundanya semua berjalan lancar dan pada sore harinya Icha dinyatakan diterima di kantor tersebut.


Karena merasa penat sekaligus lega, Icha berjalan menuju kafe disekitaran kantor dan mulai memesan, Es kopi dan roti bakar menjadi teman santai Icha pada malam ini. Alangkah indah pemandangan kota malam hari yang tampak pada jendela. Tak lama beberapa pengunjung kafe mulai berdatangan, mengingat jam nongkrong anak muda sudah dimulai. Dengan wajah tersenyum-senyum karena bahagia hingga satu pandangannya pun tertuju pada seorang lelaki berperawakan tinggi. Icha memandang lelaki itu dengan wajah yang masih tersenyum seolah mengisyaratkan senyuman manis itu padanya. Merasa terpanggil oleh senyum Icha, lelaki itu yang tak lain adalah Kak Zidni, mantan asisten dosennya membalas senyum Icha dan berjalan menuju meja Icha.


Berbeda dengan raut wajah Icha, ia merasa sudah salah orang dan malu hingga Icha menundukkan pandangannya. Tapi mau bagaimana lagi Kak Zidni sudah dekat ke meja Icha. Membuat jantung Icha berdebar tak karuan. Bagaimana tidak, Icha memendam rasa pada Kak Zidni sejak semester lalu.


"Mmm danisha, boleh bapak duduk disini?"


"A...Emm.. ehh yaa boleh pak silahkan" dengan terbata-bata


"Hhh mas! saya pesan kopi hangat saja ya satu"


"Baik pak"


Icha terlihat canggung dan merasa gugup setengah mati.


"Sudah lama ya danisha, kita tidak berjumpa. Bagaimana kabarmu?"


"Eh.. baik pak. Bapak sendiri bagaimana?"


"Ahh tidak usah panggil bapak, terlalu kaku nis. Panggil saja kakak, atau abang, atau mas he.. he.."


"Ohh eh he he iya kak Zidni"


"Kabar kakak insya Alla baik. Salam untuk ibu ya, sudah lama tidak berjumpa"


"Oke kak"


"Oh iya nis, kamu baru kesini ya?"


"Iya kak baru.. baru hari ini"


Percakapan diantara mereka berdua mulai menuju topik yang jauh. Hingga..


"Nis, rumahmu dimana?"


"Euu.... untuk apa kakak bertanya rumahku? Apa itu penting?" dengan nada sedikit arogan karena ia merasa sangat terganggu. Ya lagipula aneh saja untuk apa seorang lelaki bertanya rumahnya, memang ia ingin melamar?!


"Tentu penting. Bagaimana kakak mau melamar danisha kalau tidak tahu rumahnya"


DEG! Seketika jantung Icha berhenti berdenyut, tak tahu kata-kata apa yang akan keluar dari mulutnya. Apa ini sebuah lelucon? Ini sangat konyol! Setelah sekian lama tak bertemu dan ketika bertemu kak Zidni hendak melamar?! Tak mungkin!


"Ah.. Ha .. Ha.. Ha.. kakak ada-ada saja. Pasti bercanda, Kakak kan sudah menikah untuk apa bertanya begitu"


"Tidak kakak serius dan kakak belum menikah! Danisha, apa mata kakak terlihat bohong? Apa wajah kakak terlihat sedang bercanda?"


Memang Icha melihat wajah dan matanya begitu serius, memancarkan cahaya kebaikan dan keteguhan akan ucapannya. Icha tak mampu berkata apa-apa, ia takut ini semua hanya tipuan belaka.


"Danisha, kakak tidak jadi menikah. Kakak ditipu calon kakak, mobil dan uang sudah hilang. dan yang lebih mengagetkan, calon kakak sudah memiliki anak dan suami. Kakak sudah lelah, kakak juga ingin memiliki pendamping dan menyempurnakan setengah agama kakak. Usia kakak sudah semakin dewasa, kakak juga ingin memiliki keturunan. Kakak sedih melihat ibu setiap hari menangis, karena kebahagiaan anaknya hilang dan tak terpancar kembali. Kakak sangat terpukul akan hal itu, Ibu kakak sangat menginginkan seorang cucu. Saat itu kakak sangat bingung, tak tahu harus bagaimana. Kakak memohon ampunan dan petunjuk, hingga Ibu bilang bahwa ibu teringat dengan kamu nis, Danisha Putri anak dari sobat lama ibu. Ibu bilang pada kakak kalau dia sangat ingin Danisha jadi menantunya. Juga ibu Danisha sudah bilang kalau ia janji akan membantu kakak dan ibu. Jadi kakak rasa ini jawaban dan bantuannya."


"Emmm..."


Icha tak mampu berkata apa-apa. Perasaan bingung dan bahagia bercampur menjadi satu.


"Danisha.."


Icha masih belum bergeming, ia semakin bingung akan desakan dari Zidni


"Apa Danisha mau menikah dengan kakak?"


"Ta.. tapi apa ini tidak terlalu cepat? kita hanya bertemu beberapa kali saja! Menikah itu bukan main-main kak!"


"Kakak tahu danisha, kakak tahu. Apa di usia yang hampir berkepala tiga kakak masih main-main? Untuk apa bertemu sesering mungkin kalau beberapa kali saja hati sudah mantap untuk meminang?"


"Apa kakak yakin? Apa kakak mau menerima Icha yang tidak sempurna? Sifat Icha, fisik Icha?! Icha tidak sempurna, Icha cacat dari lahir. Icha tidak seperti wanita lain yang secara fisik sempurna, icha ... Icha ..hiks"


Mata Icha mulai berkaca-kaca. Ia teringat sekali akan gunjingan teman-temannya dulu yang mengatakan fisik Icha tidak sempurna. Icha teringat betul saat ketua osis di SMA nya tahu dan memperolok fisik Icha. Membuat hati dan jiwanya rapuh dan terluka. Icha merasa tidak pantas menjadi pendamping hidup seorang lelaki yang rupa dan fisiknya sangat sempurna. Icha bergeming, melihat keluar jendela, melihat akan bagaimana hidupnya esok, melihat apa yang harus ia katakan pada lelaki dihadapannya.


"Danisha, kenapa berkata begitu? Tidak ada manusia yang sempurna, kakak .. kakak juga tidak sempurna 100% . kakak masih banyak kekurangan, sifat jelek, dan Allah yang menutupi semua aib kakak hingga terlihat baik didepan orang lain.."


Icha tidak menghiraukan perkataan Zidni dan masih melihat keluar jendela


"Danisha, fisik tidaklah penting. Jasad ini jika sudah mati akan dimakan pula, kecantikan hati adalah kecantikan yang hakiki dan abadi. Kakak tidak melihat seseorang dari rupa dan fisiknya. Lagi pula kakak hanya membutuhkan wanita saleha untuk mendampingi kakak begitu pula calon anak-anak kakak kelak.. Danisha, apa kakak terlihat berkata bohong?"


Icha menatap Kak Zidni, dilihatnya kedua matanya yang mulai berkaca-kaca dan menunjukkan cinta sejati yang dalam. Perasaannya kini semakin bingung, tapi rasa bahagia dan rasa keinginannya itu menerima lamarannya begitu kuat dan semakin mendominasi.


"Ahh.. Apa yang harus aku lakukan? Hhh memang Icha sudah suka dengan kakak saat kita pertama bertemu. Saat kakak menjadi asisten dan sejak saat kakak pergi perasaan itu mulai berubah."


Zidni sedikit merasa kecewa mendengarnya, tetapi Icha belum selesai bicara


"Perasaan itu semakin kuat dan terus terpikirkan oleh Icha, rasa rindu dan rasa ingin bersama kakak terus mendominasi. Icha berdoa, icha tak ingin rasa ini disalahgunakan, Icha .. Icha .. Icha.. Icha semakin mencintai kakak"


Raut bahagia Zidni mulai terpancar dan menandakan kebahagiaan sejati.


"Icha menerima lamaran kakak"


"Alhamdulillahi rabbil alamin"


"Jadi, kapan kakak bawa keluarga kakak?"


"Sekarang!"














Bismillahirrahmanirrahim


"Dan diantara tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah Dia menciptakan pasangan-pasangan untukmu dari jenismu sendiri, agar kamu cenderung dan merasa tenteram padanya, dan Dia menjadikan diantaramu rasa kasih dan sayang. Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang berpikir." (QS. Ar-Rum:21)


 

Sabtu, 29 November 2014

SAMBARAMSUTRA (History)

ANUGERAH UNTUK RATU AVENDA

            Putri Avenda yang kini menjadi ratu di Sambaramsutra merasa kesepian. Bayangkan  saja, ke 13 kakaknya telah dibunuh oleh Byosa. Ia menyiapkan segala sesuatu untuk memuja Dewi Zelihad. Ia meminta pertolongannya agar ia tak kesepian diistana.
"Dewi... Dewi tolonglah aku dewii..."
"ada apa avenda kau memanggilku?"
"ibu,tolong aku.. hilangkan aku dari kesepian ini. Aku tak ingin hidup sendirian ditahtaku dewi .."
"baiklah,aku akan memberi jalan keluar Avenda. Aku akan memberimu 2 orang anak dan memberinya langsung dihadapanmu.."
"tapi bagaimana mungkin?aku belum menikah ibunda dan aku aku tak mungkin memiliki anak.."
"aku akan memberimu anak tanpa melakukan pernikahan.. dan tanpa melahirkan Avenda, lagipula kau akan tetap gadis selamanya"
"baiklah kalau begitu aku akan menerimanya"
            Seketika itu, Dewi Zelihad memberinya 2 orang anak. Anak laki-laki dan anak perempuan yang diberi nama Havechkosta  dan Havechka. Mereka berdua tinggal diistana bersama dengan ibunda mereka, Ratu Avenda. Semua warga mengherankan akan hal ini. Bagaimana mungkin? Seseorang yang belum menikah langsung memilki anak. Avenda sangat menyayangi mereka berdua.
"yang mulia... siapa penerus dari Sambaramsutra?" tanya perdana menteri
"aku memilih anak pertamaku, Havechkosta yang akan meneruskan tahtaku.. saat ia berusia 17 tahun aku akan menobatkannya menjadi raja Sambaramsutra .."
Havechkosta masih berusia 4 bulan kala itu. Sedangkan Havechka masih berada dalam kandungan sang ibunda. Beberapa minggu lagi Havechka akan lahir dan Avenda akan memanggil semua sahabat2nya dulu untuk perayaan kelahiran Havechka,tetapi semua ini dilarang oleh dayang.
"tapi mengapa aku tak boleh mengundang mereka?"
"maafkan aku yang mulia,tapi Nazea, Arumi,Nuovo dan Geanyar sedang tidak berada di sini kan?"
"aku tetap bisa mengundangnya!"
"yang mulia, keempat sahabatmu sedang sibuk dengan masalah mereka.. mereka tak akan bisa hadir diacaramu.."
"apa maksudmu?!"
"lihat cermin ajaib ini yang mulia.."
DALAM CERMIN AJAIB.....
###################################################
KISAH GEANYAR DAN KAKEK PIPIN
            2 minggu setelah meninggalkan Sambaramsutra, Geanyar lebih sering mengunjungi Kaksina. Entah untuk berjalan-jalan ataupun bertemu Nuovo. Seluruh keluarga dan penduduk Kaksina mengetahui siapa Geanyar. Karena mereka selalu bertegur sapa ataupun bercengkrama dengan Geanyar.
            Terkadang banyak putri-putri duyung yang diajari cara bernyanyi oleh Geanyar. Yang lebih fantastisnya adalah Geanyar selalu diberi imbalan oleh putri2 duyung tersebut. Mulai dari koin  emas, makanan bawah laut,ataupun menginap diKaksina. Hingga semua kesenangan itu berjalan sampai 1 bulan.
            Lalu, datanglah putri duyung yang sangat lusuh dengan pakaian juga siripnya. Ia tak bisa berdandan layaknya putri-putri yang lain. Bahkan banyak dari sirip2nya yang terluka. Ia datang kepada Geanyar untuk diajari menyanyi. Ia mendatangi Geanyar yang sedang berada dipenginapan bawah laut.
"apa kau Geanyar?:)" ujar si putri duyung yang bernama Laras Wang
"iya,siapa kau?untuk apa kau datang kemari?" jawab Geanyar
"perkenalkan,aku adalah Laras Wang. Aku kemari untuk memintamu mengajariku bernyanyi. Apa kau bisa?"
"hahaha! Kau ingin aku mengajarimu?"
"tentu geanyar.."
"apa kau bisa bercermin?kau saja sangat.....kotor"
"i..iyaa.. aku memang kotor tapi aku aku bisa membersihkan diriku!:)"
"sudah pergilah!aku tak ingin kau ada dipenginapan ini. Maaf tapi aku tak mau ada duyung kotor masuk ke penginapan ini. Kumohon pergilah.." tegas geanyar
            Putri duyung itu sangat bersedih. Iapun memutuskan untuk pulang sambil menangis. Digubuk dekat karang laut,seorang kakek tua mendekatinya dan bertanya
"cucuku tersayang ada apa kau menangis?" tanya kakek itu
"a..akuu bersedih karena aku. Aku tak boleh ikut menjadi murid geanyar :( aku sangat sedih ... hikss.. hikss..."
"memangnya mengapa kau tak boleh ikut?"
"karena akuu...akuu sangat kotor kakek dan dia telah mengusirku:("
"berani sekali dia! Dia telah menghina cucuku! Akan kubalas perbuatannya!" tegas kakek itu
            Sang kakek akhirnya pergi menemui Geanyar dengan perasaan kesal. Hingga sang kakekpun bertemu dengan Geanyar.
"hey kau geanyar apa aku bisa berbicara berdua denganmu?"
"kakek! Tentu saja! Aku sangat senang kek, mari masuklah .." ucap geanyar dengan gembira
"geanyar. Aku sangat tak percaya dengan..."
"kakek Pipin tak percaya dengan apa?"
"kau geanyar,dulu kau telah menyelamatkanku . tapi mengapa sekarang.. kau.. kau telah menghina cucuku!" Kakek Pipin mulai kesal terhadap Geanyar.
"maaf kek.. ta..tapi saya tak tahu siapa cucu kakek,jadi mana mungkin aku telah menghinanya?" geanyar mulai mengingat2 kejadian tadi siang.
"a..apaa cucu kakek bernama...bernama Laras Wang?"
"tentu! Dialah cucuku! Dan aku sangat kesal karena kau telah menghinanya! Atas semua penghinaan ini! Aku ... akuu! Aku akan membalas semua perbuatanmu geanyar! Aku akan membuatmu bisu!!!!!" kakek Pipin sangat kesal terhadap Geanyar,hingga ia mengutuk Geanyar menjadi bisu.
"kumohon ampun kakek! Aku aku tak tahu akan hal ini *bertekuk lutut* aku mohon ampunnn....."
"sudah terlambat! Aku telah mengutukmu!!" kakek pipin berlalu pergi meninggalkan Geanyar sendirian dengan duka yang sangat mendalam.
            Setelah kejadian itu, esok harinya Geanyar tidak akan mengunjungi Kaksina lagi. Ia hanya bisa bersembunyi didalam penginapannya, dan tak ingin sahabatnya mengetahui hal apa yang terjadi padanya. Ia merasa bersalah dengan semua ini. Kini ia tak bisa bernyanyi lagi. Dia sangat bersedih akan hal itu....
###################################################
"apa?! Geanyar bisu! Mana mungkin itu bisa terjadi dayangku? A.. aku sangat tidak percaya dan aku ingin sekali mendengar Geanyar menyanyi diistana ini:(" ujar Ratu Avenda dengan sedih.
"lalu bagaimana dengan Nuovo dan Nazea? Apa yang terjadi dengan Nazea juga sahabat karibku Nuovo? Ceritakan padaku cermin ajaib!" perintah sang ratu.
DALAM CERMIN AJAIB.....
###################################################
PERNIKAHAN BAJAK LAUT BINTANG DAN PUTRI DUYUNG NUOVO
            Setelah kembalinya Nuovo dari Sambaramsutra,ia lebih memilih untuk menutup dirinya di Kaksina. Hingga satu halpun terjadi padanya. Ibunda Nuovo mengalami sakit yang teramat parah. Nuovopun semakin resah dibuatnya.
"apa yang terjadi tabib Ammy pada ibuku?" tanya Nuovo
"ada sedikit masalah pencernaan tuan putri. Dan hanya satu obatnya.."
"apa itu?"
"teratai ungu tuan putri..tetapi.."
"tetapi apa?katakan padaku?"
"bunga teratai ungu hanya ada di Sungai Lodsa. Dan aku aku tak berani mengambilnya tuan,jadi maafkan aku"
"tak apa,biar aku saja! Mulai besok pagi aku akan mengambilnya. Tabib Ammy tolong jagalah ibuku selama aku pergi"
"baik tuan putri.."
            Nuovopun harus memberanikan dirinya untuk kembali ke Lodsa seorang diri,tanpa Nazea, Arumi juga Geanyar. Ia mulai bersiap2 untuk esok.
            Perbekalanpun sudah disiapkan dalam ranselnya dan ia beranjak menuju kamar ibunya untuk meminta doa restu.
"ibu, restuilah aku untuk mengambil obatmu..."
"aku merestuinya anakku,jaga dirimu baik2. Ibu doakan kau selamat nak."
"baik bu, salam.."
"semoga kau selamat"
            Nuovo beranjak dari kamar ibunya dan pergi berenang menuju Sungai Lodsa.
Sesampainya di Sungai Lodsa....
"AWWWW!!!".Kepala Nuovo terbentur oleh kapal. Ia sangat kesal dan hendak memarahi sang nakhoda.
"hey kau! Kau sudah membentur kepalaku! heyyy!!!"
"maafka...kau! kau yang dulu mencuri di marketku kan?!" tak disangka! Bahwa pemilik kapal itu adalah BAJAK LAUT BINTANG. Ini sulit sekali dipercaya.
"iya memang itu aku,lalu apa yang kau inginkan?"
"aku ingin sekali menghukummu! Sekarang juga aku akan menghukummu lebih berat! Hahaha! Perompak bawa dia!"
Bintang ingin sekali membawa Nuovo menjadi tahanannya. Nuovo ketakutan dan tak tahu harus berbuat apa. Karena ia sendirian, iapun sangat mudah untuk dibawa menuju penjara. Ia hanya bisa pasrah dan berharap ada bantuan.
"bawa dia kepenjara!! aku sudah muak melihat wajahnya!" tegas Bintang. Nuovo terlihat pasrah tak berdaya. Ia menangis didalam penjara sendirian.
"kau akan nyaman disini untuk 5 tahun kedepan! Hahaha!!"
"kumohon tuan, jangan kurung aku selama itu.. :( aku harus menolong ibuku.. kumohon mengertilah...:("
"tidak! Kau telah merugikan sebagian usahaku! Dan hanya satu hukumannya yaitu PENJARA!". Bintangpun pergi meninggalkan Nuovo.
"KAU! TAK PUNYA HATI NURANI! LIHAT SAJA DEWI AKAN MENGHUKUMMU  ATAS KETIDAKADILAN INI!!!"
Nuovo berteriak keras kepada Bintang dan kembali tertunduk dipenjara. Bintang seolah-olah tak peduli dengan keadaan Nuovo. Ia kembali menuju marketnya untuk berjaga-jaga.
"sayang, apa kau percaya akan suatu hal?" tanya Bintang kepada istrinya Meggy
"apa itu sayangku?"
"apa dewi akan menghukumku?"
"hahaha,tidak mungkin  suamiku kau berada dijalan yang benar. Siapa yang berkata begitu?"
"tahananku.."
"ouuwww,putri duyung itu?itu mustahil Bintang. Kau tak akan pernah dihukum atas hidup ini..:>"
Meggy begitu yakin akan apa yang dilakukan suaminya. Ia tidak mempercayai semua perkataan Nuovo dan juga Bintang sama sekali tak memikirkannya.
DUAAAARRRRRRRR!!!!!!!!!"
"Hahhh!! Suara apa itu suamiku?" ucap Meggy panik
"aku tak tahu! Ayo periksa gudang penyimpanan!"
Bintang dan Meggy menuju gudang dan alangkah terkejutnya bahwa setengah bagian dari market mereka terbakar.
"ayoo cepat padamkan api ini!!!"
Semua anak buah sibuk menghentikan api. Untunglah api tidak cepat membesar sehingga masih tergolong mudah untuk dipadamkan.
"mengapa ini bisa terjadi?!" tanya Bintang
"aa...aku tak tahu tuan.. tiba2 saja gudang ini terbakar,padahal tak ada satupun orang didalam tuan.."
"kurang ajar! Yasudah cepat bereskan tempat ini!"
"baik tuan.."
Bintang masih kurang yakin bila ini semua adalah hukuman dari Dewi. Ia sama sekali tidak terpikir sejauh itu. Karena hari sudah mulai gelap, Bintang memutuskan untuk pulang kerumahnya bersama sang istri, Meggy. Dalam perjalanan pulang, kuda yang ditunggangi Meggy mendadak hilang kendali. Bintang yang terlihat panik berlari mengejar kuda itu. Namun pergerakannya sangat cepat dan Bintang sudah kewalahan mengejarnya.
"to...tooo...tolongg akuuuu!!!!!!!" teriak Meggy
"bertahaaanlaaahhhhh!!!!"
""AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA"
Meggy terus berteriak ketakutan, Bintang semakin cepat saja mengerjanya namun tetap tak bisa menandingi kecepatan kuda Meggy.
"tttooooloooooongggg!!!!!!!!!"
Malang sungguh, kuda Meggy sangat cepat dan tidak dapat terkejar oleh Bintang hingga kuda dan Meggy harus masuk ke jurang yang sangat dalam.
"AAAAAAAAA...~~~"
"MEEEGGGGGYYYYYYY!!!!!!!"
Bintang menangisi kepergian istrinya yang sangat tidak dipercayainya. Ia sangat terpukul dan bersedih. Ia kembali mengingat akan kata2 Nuovo dan segera menemuinya.
"KAAAUUUU!!kau yang telah membunuh istriku!!"
"apa kau bilang?mana mungkin aku membunuhnya apa kau tak lihat? Aku berdiri dihadapanmu dan aku berada dalam penjara!"
Bintang tertegun.
"apa ini hukuman dari dewi?"
"diam kau! Kauuu.. kau harus menarik kembali ucapanmu!"
"Kalau begitu lepaskan aku sekarang juga..."
"tidak!"
"kalau begitu biarlah dewi menghukumku hingga kau menderita seumur hidupmu!!"
"tiddaaaak!!!! Ini tak akan pernah terjadi!!"
"yasudah terima saja dan tunggulah penderitaanmu!"
Bintang terus memikirkan apa yang terjadi kedepannya,ia tak tahu harus bagaimana. Ia tak ingin dibayang2i ketakutan ini,akhirnya Bintang melepaskan Nuovo.
"kau bebas..." dengan suara yang lemas Bintang melepaskan Nuovo dan Bintang berlalu pergi.
Nuovo  segera berlari dari penjara dan meninggalkan Bintang sendirian. Melihat Bintang bersedih, Nuovo kembali kearahnya dan mulai meminta maaf.
"apa aku salah atas kematian istrimu?" tanya Nuovo sambil memegang pundak Bintang
"tidak"
"maafkan aku atas semua ucapanku tadi siang..aku merasa akulah yang telah membunuh istrimu"
"tidak"
"mengapa?"
"karena ini semua memang teguran dari Dewi"
"atas apa?"
"atas diriku sendiri"
"tapi mengapa?"
"karena semua perbuatanku yang telah merugikan  orang banyak sehingga aku memang pantas mendapatkannya..."
"jangan berkata begitu,ini semua memang takdir darinya.. kumohon jangan bersedih sperti ini tuan"
"kau tak usah memanggilku tuan"
"baiklah.. bin.. bintang,aku akan pergi sekarang.."
"kau mau kemana?"
"entahlah,kau lupa?aku kan  tidak pnya tempat tinggal di Depyon"
"menginaplah dirumahku malam ini"
Nuovo mengangguk tanda setuju. Saat pagi hari,Nuovo bersiap2 untuk pergi mencari teratai ungu.
"kau mau kemana?"
"mencari teratai ungu" ujar Nuovo sambil memasukkan sesuatu kedalam tasnya.
"makanlah dulu.."
"memangnya kenapa?"
"haha,kau tau tidak?teratai ungu itu hanya ada dipuncak gunung Lodsa. Jadi apa kau bisa melakukannya?"
"tentu! Aku akan pergi sekarang juga.."
"tunggu.."
"apa?"
"aku akan ikut.."
"apaa? Ini perjalananku sendiri!"
"apa kau tidak mau menolongku atas kematian istriku?ajaklah aku agar ku tak kesepian.. lagipula kau tak tahu dimana gunung Lodsa"
"emm..iyaa baiklah...kau boleh ikut denganku"
Perjalanan Nuovo dan Bintangpun dimulai^^
Disepanjang jalan menuju puncak gunung Lodsa, Nuovo dan Bintang sama sekali tidak berbicara sedikitpun. Tak disangka, kaki Nuovo terjerat oleh akar2 pohon hutan hingga ia hampir terjatuh.
"aaaaaaaa"
"ahh.. hati-hati" Bintang memegangi pinggang Nuovo yang hampir saja terjatuh. Untunglah Bintang sigap menolongnya. Pipi Nuovo menjadi merah karena malu.
"mengapa kau menolongku?"
"ohh jadi kau tak mau aku menolongmu?! Yasudah"
"bukan begitu maksudku..aku kan bekas tawanan..."
"sudahlah lupakan kejadian itu"
"berhentilah,aku kelelahan.." Nuovo duduk dibawah pohon rindang karena sudah tidak mampu lagi berjalan.
"ayoo.. naiklah ke punggungku"
"ti...tidak usah,beristirahatlah dulu.. apa perjalanan masih jauh?"
"tidak sebentar lagi.. hanya beberapa tebing lagi.."
"oww.. okay.."
Setelah beberapa menit, Nuovo dan Bintang melanjutkan pencariaannya,hingga sampailah mereka digunung Lodsa.
"permisi nyonya dimana aku bisa mendapatkan teratai ungu?" tanya Nuovo kepada salah satu pemetik bunga.
"Untuk apa nona?"
"untuk.. obat,memangnya ada yang salah??"
"ti..tidakk.. tapi sangat disayangkan"
"apa maksudmu?"
"seseorang yang mengambil teratai ungu haruslah bersumpah akan sehidup semati dengan pasangan yang dibawanya, namun banyak pasangan yang tewas karena mereka bukan cinta sejatinya dan bahkan tak saling mencintai..."
"apaaa?! Lalu bagaimana jika seorang diri?"
"mereka yang datang seorang diri tak akan pernah menemukannya bahkan takpernah melihatnya seumur hidupnya.."
"ta..tapi aku seorang diri!"
"dia bukan pasanganmu,nona?"
"ohh..iya! kami adalah pasangan seumur hidup! Benar kann?" tegas Bintang mengagetkan sembari merangkul Nuovo.
"apa maksudmu?!"
"aku hanya menolongmu!"
"tapi kau membuat masalah untukku!!"
"sudahlah! Akui saja! Aku memang tampan bukan?"
Nuovo menginjak kaki Bintang karena kesal dan hanya menimbulkan masalah dikemudian harinya.
"jadi bagaimana?" tanya si pemetik bunga
"aa...aaa..iya baiklah bisakah kau membawa kami kesana?"
"tentu,ikutlah denganku"
Mereka bertiga langsung beranjak menuju puncak Lodsa.
"kau! Lepaskan!"
"yasudah.." ujar Bintang sambil melepas rangkulannya
Nuovo berjalan lebih dulu daripada Bintang,ia tak pernah menyangka bajak laut sekeji Bintang melakukan hal itu. Padahal bukan Nuovo kan tukang pembolak balik hati manusia?
"ini nona, pucak gunung Lodsa.. silahkan"
"waww,indah sekali.. silahkan apa?"
"bersumpahlah dengan pasanganmu..jika benar ia cinta sejatimu maka kau akan mendapatkan teratai ungu itu"
Nuovo sangat bingung dengan apa maksud semua ini. Ia tak ingin mengecewakan ibunya, tapi ia juga tak mungkin mengikat sumpah dengan Bintang.
"ayo lakukanlah" ajak Bintang
"itu mustahil,aku bukan cinta sejatimu dan sebaliknya"
"apa kau tak bisa berpura2?! Lakukan saja sumpah yang kau sendiri tak akan melakukannya"
Nuovo sangat gelisah juga dilema,ia sama sekali tidak mempunyai pilihan
"mengapa kalian belum mengikat sumpah kalian?apa kalian tidak mau mengikuti semua persembahan cinta sejati?"
"bukan begitu..ta..tapii..." Nuovo semakin gugup
"kalian ini kan pasangan tapi mengapa sangat sulit?"
"baik ayo lakukan sayangku" ajak Bintang. Bintang menarik tangan Nuovo dan mengajaknya kepuncak tertinggi gunung Lodsa
"apa yang ingin kau lakukan??"
"DEMI SEMUA ADAT DAN PERATURAN CINTA SEJATI,AKU TELAH BERSUMPAH BAHWA AKU AKAN SELALU MENCINTAI DAN MENJAGA WANITA YANG ADA DISAMPINGKU!"
"oh tuhan.. apa maksud semua ini?aku aku.. tuhaannnn" *menitikkan air mata* gumam Nuovo dalam hati
Seketika itulah muncul beberapa buah teratai ungu dari puncak gunung Lodsa.
"silahkan, ambillah sesuai kebutuhan tapi jangan seraakah!" ucap si pemetik bunga
Nuovo dengan segeranya mengambil teratai itu, lalu dia kembali lagi ke hadapan Bintang.
"ayo kita pergi.."
Bintang hanya mengangguk saja dan mulai membalikkan badannya lau pergi pulang.
---
"jadi kita berpisah disini?" tanya Bintang. Mereka sudah sampai di perbatasan utara Pasar Depyon.
"ya..aku harus cepat2 memberikan ini untuk ibuku.."
"oh..yaa silahkan"
"lalu?"
"lalu apa?"
"aku teringat apa yang kau lakukan dipuncak gunung itu.."
"yaa akupun begitu, sudahlah biarkan takdir yang menyelesaikannya.. hati-hati" ujar Bintang sambil meninggalkan Nuovo. Nuovopun merubah diri menjadi ikan dan kembali pulang.
@Room of Kaksina
"tabibb...tabibbbbb"
"iya tuanku?"
"aku sudah membawakan ini.. *menunjukkan teratai ungu*
"yasudah, kita obati yang mulia perdana menteri"
Tabibpun mengobati ibunda Nuovo
"apa yang akan terjadi selanjutnya?" tanya Nuovo
"obatnya akan segera bereaksi dan akan membuat yang mulia segera sembuh.. tapi aku sangat heran dengan semua ini.."
"apa maksudmu?"
"bagaimana bisa kau mengambilnya seorang diri?padahal kau harus bersumpah disana"
Nuovo terlihat bingung dan berusaha menyembunyikan apa yang telah terjadi.
"kau sudah memiliki pasangan hidup?"
"ti..tiidak mungkin!"
"jangan berbohong padaku dan juga dihadapan ibumu, aku tau segalanya yang mulia"
"entahlah aku sangat bingung dengan kejadian kemarin.. jadi semuanya berawal dari ...*menceritakan semua kisahnya*
"apaaa? Segeralah menikah yang mulia!"
"a..apaa maksudmu?! Iitu tak mungkin terjadi!"
"ku mohon yang mulia, jika tidak teratai itu akan mematikan ibumu dalam waktu 24 jam!"
"APAAAA?! Lalu apa yang harus ku lakukan tabib?!!!"
"temui ia dan memintalah dia untuk menikahimu!"
"ta..tapi aku tak mencintainyaaa!"
"setelah kau menemuinya rasa cinta itu akan tumbuh dengan cepat sebab sumpahmu!"
"demi ibunda.....aku relaaa...*menitikan air mata dan pergi menemui Bintang*
Nuovo menuju Depyon kembali, berharap ia bertemu Bintang dan memintanya menikahinya.
"tokk...tok...tokkk..."
Nuovo mengetuk market Bintang
"Nuovo?apa yang kau lakukan disini?bukankah kau sudah pulang?"
"Bintang kumohon! Sumpahmu!!!" ujar Nuovo sambil menangis
"masuklah... ceritakan didalam saja.." Nuovo dan Bintang memasuki ruang kerja Bintang dan mulai menceritakan semuanya sambil menangis tersedu-sedu.
"aku sudah menduga itu Nuovo.. maafkan aku"
"ti..tidak Bintang kau tak seharusnya meminta maaf"
"jadi apa yang harus kita lakukan atas permasalahan ini?"
"hanya satu..."
"baiklah! Aku akan melakukannya! Saat fajar tiba aku akan menikahimu!"
Bintangpun beranjak pergi dan meninggalkan Nuovo, mungkin ia akan mempersiapkan semua pernikahannya. Dan ternyata memang benar...
"apa tuan? Tapi Depyon musuh Kaksina tuan!" ujar salah satu perompak
"semua bajak laut dan juga perompak.. atas semua kesalahan ini, aku.. aku bajak laut Bintang telah menghapuskan semua dendam dan permusuhan dari Kaksina, damailah! Ini takdir dan tidak ada seorangpun yang dapat merubahnya!"

Hingga semua takdir dan ucapan Bintangpun tak bisa ditolak hingga pernikahanpun digelar...

@Kaksina
"apaaa?putriku sudah menikah dengan seseorang dari Depyon?!!"
"iya yang mulia perdana menteri.."
"taa...tapi ini adalah sebuah kemustahilan!"
"tak ada yang mustahil yang mulia, takdir dari leluhur sudah diubah oleh putri Nuovo dan Kaksina akan menjadi semakin makmur.."
"benarkah tabib?"
"iya..aku bisa buktikan itu.."
Orangtua Nuovo dan seluruh warga Kaksinapun merelakan putrinya menikah dengan bajak laut yang ternyata musuh mereka sendiri.
###################################################
"takdir saja bisa diubah kan?!!" tanya Ratu Avenda
"benar yang mulia"
"berari kita bisa merubah geanyar pula.. dan aku aku turut bahagia atas pernikahan sahabatku itu! :D"
"dayang... dayang bagaimana dengan Arumi dan Nazea?"
"untuk kisah mereka lihatlah cermin ajaibnya lagi ratu"
"cermin ajaib perlihatkanlah...."
DALAM CERMIN AJAIB
###################################################
CINTA UNTUK NAZEA
            Setelah berakhirnya perlawanan Nazea dengan Byosa, Nazea tidak ingin terlalu menggunakan gayungnya itu.  Dan untuk pengkhianatannya terhadap Wedarsya, ia lebih menjadi pelajar biasa di Neseo School di Nusangga. Sedangkan Geanyar mendirikan sekolah bernyanyinya dekat Neseo. Lain halnya dengan Arumi yang ia kini menjadi penggembala.
Hari pertama dilalui Nazea dengan beberapa murid biasa lainnya. Teman-temannya juga sama dengannya, memiliki ilmu sihir yang tidak seberapa dibandingkan Nazea yang begitu kuat karena telah menginjakkan kakinya di Sambaramsutra.
Ada beberapa mata pelajaran yang memang dengan teman-temannya sendiri sangat membencinya, yaitu Gunanderm. Gunanderm adalah mata pelajaran tentang kegunaan ilmu sihir mereka, bagaimana cara melawan musuh dengan benar. Namun, pola ajar yang diterapkan sang guru sangat buruk bagi murid-muridnya. Berbeda halnya dengan Nazea, ia terlihat biasa saja dengan pola ajarnya. Dan yang paling memikat hati adalah, pesona sang guru yang membuatnya tak bisa berkata apa-apa...
---
"Nazea, kau ingin ikut bersama kita?" tanya seorang murid lelaki
"untuk apaa? Maksudku kemana kalian akan mengajakku?"
"pergi dari Tuan Ming"
Tuan Ming, itulah panggilan dari guru Gunanderm kami.
"apaaa? Haha kau serius? Mana mungkin! Aku tak akan pernah pergi menghindar seperti itu! Haha"
"apa kau yakin?"
"tentu, haha yasudahlah jika kalian akan kabur aku mendukung kalian. Dan akan kuberikan alasan kepergian kalian"
"terimaksih Nazea, tapi.."
"tapi apa?"
"apa kau yakin dengan alasanmu itu?"
"alasan untuk Tuan Ming?"
"iyaa.."
"tentu! Percayalah padaku!"
"tapi bukan hanya aku yang pergi"
"lalu?"
"kami semua!"
"apaaa?! Apa kau gila? Kau mengajak semua teman sekelas untuk pergi?!"
"yaa! Lebih baik kau ikut saja!"
"ta..tapi aku tak mau!"
"ayolah, apa kau suka terhadap apa yang di ajarkan?"
"tentu! Lebih dari itu! Aku mencintai gurunya! Hanya mengaguminyaaa :)"
"nazea! Apa yang telah kau ucapkan?!"
"iya.. yaaa seperti tadi kau tak mendengar memangnya?"
"Nazea, nazea.. ini Neseo School.. apa yang kau selalu pikirkan dan kau harapkan pasti terjadi hahahaha! Makan itu nazea!" ujar murid tadi dan pergi meninggalkan Nazea termenung sendiri.
"apa mungkin yang dikatakannya benar? Hmm, kalau begitu itu yang aku harapkan! Aku akan selalu memikirkan semua hal bersama guru Ming! ^^"
"ohya, terlebih akan ada pesta sekolah minggu depan! Ahh semoga saat itu juga guru Ming menyatakan kekagumannya pula kepadaku..." ujar Nazea dalam hati. Nazeapun ikut membolos dengan teman-temannya dan membuat guru Ming marah besar terhadap mereka semua.
Nazea dan semua kawan-kawannya membolos dari Tuan Ming. Dan sampai kejadian ini pun terdengar ketelinga Tuan Ming sendiri bahwa pelaku utamanya adalah Nazea.
"APAAA? Aku bisa bersumpah bahwa aku bukan pelakunya! Aku tidak pernah mengajak mereka membolos tapi mereka sendiri yang mengajakku!"
"hentikan nazea! Jangan kau berani bersumpah di Neseo! Dan ingat jangan pernah kau kotori Neseo dengan kelakuan busukmu itu!"
"ta..tapiii..."
"cepat Nazea aku akan menghukummu dari semua kejahatan di Neseo!"
"untuk itu, aku memintamu untuk menjemurkan diri didekat bara api itu!"
(murid kurang ajar! Aku sangat membencimu! Lihat saja nanti! Setelah ini aku akan menghukummu! Dan aku akan keluar dari tempat suci ini! lihat saja kau!)
Nazea akhirnya menjemurkan dirinya, panas bara api ini sudah membuatnya bercucuran keringat. Semua pakaian merah mudanya sudah basah dengan keringat. Ia semakin tidak kuat karena tidak ada setetes air yang bisa ia kendalikan.
"kumohon tuan ming aku ti..tidakk kuaaat..."
"sebentar lagi saja nazea, setelah itu dosa2mu akan lenyap dengan keringatmu.."
"ahhh tidakkk1!!!! Panas sekaliii!!!!!!!"
15 menit kemudiaan..
"tuan ming!!! Lepaskan aku dari panas ini!!!!"
"baik nazea, kau boleh melepaskan diri dan pulanglah.."
"tuan ming! Aku .. aku nazea akan keluar dari Neseo dan tidak akan pernah kembali lagi! Ini ku kembalikan dasi pengenalku!!"
Karena semua ketidakadilan ini, nazea pergi dari Neseo dan ia tidak akan pernah menginjakkan kakinya di Neseo lagi.
"nazea tunggu!!!" panggil Tuan Ming
Nazea berjalan sangat cepat sembari menyusuri koridor-koridor sekolah. Dan tampak dari belakang tuan ming mengejarnya.
"nazea berhenti!!"
"apa maumu!?"
Nazea menghentikan langkanya di depan gerbang sekolah.
"maafkan aku tapi ini sudah peraturan"
"aku tak peduli" nazea kembali melanjutkan perjalanannya untuk kembali pulang
"nazea berhenti!"
Tuan Ming menarik tangan Nazea
"kau pikir siapa dirimu!? Bisa seenaknya menuduhku melakukan hal itu hingga selama 3 jam aku merasa tersiksa!"
"tapi ini kabar yang kudapatkan dan aku sangat marah dengan hal itu! Dan mengapa kau berani membentakku?"
"hh, aku ini memang sangat berani. Kau hanya seorang kakak yang tak beda usia dengan ku, lalu apa aku harus takut terhadap kakakku sendiri?!"
"tapi semua orang sudah menganggapku guru dan aku.. aku ini gurumu. Apa kau bertindak tidak sopan terhadap gurumu?!"
"aku lebih memilih tidak sopan daripada aku harus mendapat perlakuan keji dari murid lelaki yang bernama ***** itu! Kau tanya saja padanya! Dan ingat! Kebenaran akan datang menghujam dirimu!!"
Karena sangat kesal, Nazeapun pergi dan melepaskan tangannya. Ia berlari secepat mungkin dan kembali ke penginapannya.
Sesampainya ia langsung membanting pintu dan menguncinya rapat-rapat.
"hh, kurang ajar! Karena semua perbuatannya aku yang kena hukum!"
Nazea mengomel karena sikap teman lelakinya itu, ia segera membersihkan diri dan beristirahat diranjangnya.
"aku akan menelpon sahabatku dan menceritakan semuanya"
Tuuttt...tuuutttt...
"hh, tak ada jawaban dari arumi kalau begitu aku mene;pon geanyar saja"
Kringggg....krrringggg
"ada apa nazea?"
"geanyar.. aku ingin bercerita padamu.."
"silahkan, aku tak pernah melarangmu bukan?haha"
"aku membenci... *menceritakan*
"kau serius?! Kurang ngajar dia, dia harusnya mendapat hukuman yang sepantasnya! Tenang saja nazea, kebenaran itu selalu menang.."
"iya terimaksih aku tau geanyar, lagipula akhir2 ini mengapa aku tak pernah mendengarmu bernyanyi?"
"degg... emm tak apa nazea, tenggorokanku sedang sakit"
"yasudah kalau begitu lekas sembuh saja .."
"terimaksih.."
Geanyar menutup teleponnya, begitupun nazea. Ia sudah tidak memikirkan hal itu dan iapun tertidur lenyap~

TOKKK...TOKK...TOKKK...TOKKK
"aduhh!! Siapa sih pagi pagi sudah menggangguku saja! Hhh pukul berapa ini? pukul 7:54 hhhoaaam"
"iyaa tunggu sebentar"
Nazea berjalan untuk membuka pintu, ia sama sekali tidak melihat kearah kamera siapa yang akan datang. Ia langsung menekan password penginapannya dan taarraaaa..
"selamat pag..."
"untuk apa kau kemari!? Menghukumku?!"
"tunggu nazea! Aku ingin meminta maaf bahwa sebenarnya bukan dirimu.."
"tuan ming, kau ingat sekali bukan bahwa kebenaran akan mendatangimu bagimana caranya?!"
"jangan panggil aku tuan, panggil saja aku kakak. Kau sendiri yang bilang bahwa aku kakakmu"
"pergilah"
"tidak, aku ingin mengajakmu jalan.."
"mustahil"
"tolonglah terima maafku"
Nazea berfikir sejenak, ia teringat apa yang akan harapannya di Neseo 2 hari yang lalu. Dan mungkin ini jalan untuk mencapai harapannya itu. Lagian siapa peduli? :p
"kalau begitu tunggu aku"
Kakak Ming mengangguk dan Nazea segera menutup pintunya. Ia langsung mandi dan bergegas untuk jalan harapannya itu.
Setelah selesai mandi, Nazea berganti pakaian. Ia menggunakan celana berwarna biru dan tidak terlalu ketat dan tua, ia juga mengenakan kaus yang dibalut dengan blezzer polkadot kesukaannya. Tak lupa dengan turban yang senada dengan celananya itu. Berjalan dengan tas selendang dan sepatu wedges berwarna hitam iapun keluar menemui Kak Ming.
"nazea?"
Nazea berbalik menatap Kak Ming
"apa?"
"kau..kau cantik:)"
Nazea hanya tersenyum kecut sambil mengunci pintunya. Mereka langsung menuju parkiran dan memasuki mobil lamborghini kak Ming.
Apa yang terjadi? Nazea berjalan-jalan di pantai dan mulai menerima maaf Kak Ming. Ia sangat bahagia entah karena hatinya atau karena harapannya itu. Entahlah...
Hari-haripun berlalu dengan rasa bahagia yang dialami Nazea. Ia senang membagikan kebahagiannya kepada Geanyar dan Arumi juga Nuovo. Meski ada kerenggangan diantara mereka berempat. Hingga saatnya tiba...
"kau yakin memilihku untuk pasangan pesta?"
"tentu! Lihat saja apa yang akan terjadi disana:)"
Nazea tersenyum tersipu malu, ia tak tahu apa yang akan dilakukan Kak Ming dipesta itu. Ia segera menggenakan gaunnya dan berjalan bersama Kak Ming di pesta Neseo itu. Ia menunggu Kak Ming untuk menjemputnya. Dengan sabar nazea menunggu Kak Ming didepan penginapannya itu.
Senyum dan senyum .. kini telah berubah menjadi kegelisahan. Lama sekali Nazea menunggu Kak Ming datang. Ia hampir kesal, namun ia akan tetap menunggunya. Cuaca sama sekali tidak mendukung Nazea. Petir yang menyambar-nyambar memberikan tanda keburukan akan hal yang akan terjadi. Dan hujanpun menuruni dan membasahi gaun putih Nazea.
Ia terus sabar menunggu Kak Ming. Karena tak sabar ia berlari kearah lampu merah didepan penginapannya. Diatas sana, geanyar menyaksikan kegelisahan Nazea dan sangat tidak ingin terjadi hal-hal yang buruk bagi Nazea. Dengan segera, geanyar membuntuti Nazea dan membawakan payung untuknya juga. Nazea terus berlari menuju jalanan ditengah hujan dan angin malam.
Terlintas sebuah lamborghini hijau yang berlalu didepan Nazea. Kak Ming segera melirik Nazea dan membuka kaca mobilnya itu. Tapi karena jalanan yang sangat licin dan Ming yang tidak melihat jalanan, Kak Mingpun menabrak sebuah kereta kencana dan ia terhempas jauh keluar dari mobilnya itu.
Nazea yang menyaksikan langsung kejadian itu segera berlari menemui kak Ming sambil menangis.
"Kak MINGgggg!!!!!"
"nazea..." geanyarpun berlari menemui nazea tanpa memperdulikan payung yang terbang entah kemana
Nazea segera memeluk jasad Ming yang berlumuran darah. Warga, tabibpun segera menolongnya. Namun alangkah terkejutnya bahwa aada seorang tabib yang berkata bahwa..
"maafkan aku, tapi ia.. ia sudah pergi.."
"apaaa???!!! Tidak mungggkkkkkiiiiiiiiiiinnnnnnnnnnnnnnn!!!!!!!!" nazea menangis dihadapan semua orang.
"nazea kuatkan dirimuuu..." geanyarpun larut dalam kesedihan sambil memeluk Nazea. Gaun suci nazeapun harus ternodai dengan darahnya Kak Ming.
 ###################################################
"hhh...hiksss...hiksssss" Ratu Avenda bersedih mendengar kabar duka Nazea.
"yang mulia.. jangan bersedih.." ujar sang dayang
"aku .. aku sangat bersedih.. bagaimana mungkin seorang Nazea yang begitu tabah. Apa kalian tak ingat dulu.. dulu ia kehilangan Henhen dan kini ia ia harus kehilangan kakak kesayangannya itu.."
"memang nasib baik dan buruk bukan kita yang menentukan.."
"lalu bagaimna dengan Arumi?"
"maaf yang mulia.. tapi cermin ajaib tidak bisa menampilkn arumi.. tapi ia mendeteksi kalau arumi baik2 saja"
"syukurlah .. yasudah... cepat dayang! Undang sahabatku itu kemari! Aku akan menyembuhkan luka dihati Nazea dan juga kebisuan geanyar!"
"baik yang mulia, kami akan segera mengundangnya.."
Undanganpun disebar. Dan beberapa hari lagi sahabatnya itu akan datang.

**************************************************************************************